Contoh Penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam dunia pendidikan
IQ adalah modal dasar siswa atau mahasiswa untuk
meraih keberhasilan. akan tetapi test tersebut
juga tidak dapat secara mutlak dinyatakan sebagai salah satu identitas dirinya
karena tingkat intelektual seseorang selalu dapat berubah berdasarkan usia
mental dan usia kronologisnya. IQ adalah ukuran kemampuan intelektual,
analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan
keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang
tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari
hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan
mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja
dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan
menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, kita
memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan
gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ. b. Kecerdasan Emosional
(EQ) Kecerdasan emosional adalah sebuah kemampuan untuk “mendengarkan” bisikan
emosi, dan menjadikannya sebagai sumber informasi maha penting untuk memahami
diri sendiri dan orang lain demi mencapai sebuah tujuan. Banyak orang yang
salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual.
Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan
seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat
diungkapkan dengan “What I feel” Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional
Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang
hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor
yang disebut kecerdasan emosional (EQ). Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya
menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam
dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang
positif dan bermanfaat. Ya inilah kecerdasan yang mempunyai pengaruh besar
dalam kehidupan seseorang, Emotional Quotient atau EQ. EQ adalah serangkaian
kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan didunia yang rumit, aspek
pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh
misteri, dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari.
Dalam bahasa sehari-hari, EQ disebut sebagai akal sehat. c. Kecerdasan
Spiritual (SQ) Kecerdasan ini pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian
Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Dikatakan
bahwa kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan
makna atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna
yang lebih luas dan kaya. SQ juga bermakna kecerdasan untuk menempatkan
perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibandingkan dengan yang lain. Orang yang ber SQ tinggi mampu memaknai
penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah,
bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia
mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
Manusia yang memiliki SQ tinggi cenderung akan lebih bertahan hidup dari pada
orang yang ber SQ rendah. Banyak kejadian-kejadian bunuh diri karena masalah
yang sepele, mereka yang demikian itu tidak bisa memberi makna yang positif
sari setiap kejadian yang mereka alami dengan kata lain SQ atau kecerdasan
spiritual mereka sangat rendah. Menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan
manusia yang berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk
menganalisis, berfikir, menentukan kausalitas, berfikir abstak, bahasa,
visualisasi, dan memahami sesuatu. IQ adalah alat kita untuk melakukan sesuatu
letaklnya di otak bagian korteks manusia. Kemampuan ini pada awalnya dipandang
sebagai penentu keberhasilan sesorang. Namun pada perkembangan terakhir IQ
tidak lagi digunakan sebagai acuan paling mendasar dalam menentukan
keberhasilan manusia. Karena membuat sempit paradigma tentang keberhasilan, dan
juga pemusatan pada konsep ini sebagai satu satunya penentu keberhasilan
individu dirasa kurang memuaskan karena banyak kegagalan yang dialami oleh
individu yang ber IQ tinggi (dalam Sukidi). Ketidak puasan terhadap konsepsi IQ
sebagai konsep pusat dari kecerdasan seseorang telah melahirkan konsepsi yang
memerlukan riset yang panjang serta mendalam. Daniel Golman mengeluarkan
konsepsi EQ sebagai jawaban atas ketidak puasan manusia jika dirinya hanya
dipandang dalam struktur mentalitas saja. Konsep EQ memberikan ruang terhadap
dimensi lain dalam diri manusia yang unik yaitu emosional. Disamping itu Golman
mempopulerkan pendapat para pakar teori kecerdasan bahwa ada aspek lain dalam
diri manusia yang berinteraksi secara aktif dengan aspek kecerdasan IQ dalam
menentukan efektivitas penggunaan kecerdasan yang konvensional tersebut (dalam
Danah Zohar dan Ian Marshal) Komponen utama dari kecerdasan sosial ini adalah
kesadaran diri, motivasi pribadi, pengaturan diri, empati dan keahlian sosial.
letak dari kecerdasan emosional ini adalah pada sistem limbik. EQ lebih pada
rasa, Jika kita tidak mampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita
tidak akan mampu untuk menggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ)
secara efektif, karena IQ menentukan sukses hanya 20% dan EQ 80%. Kecerdasan
spiritual mampu mengoptimalkan kerja kecerdasan yang lain. Individu yang
mempunyai kebermaknaan (SQ) yang tinggi, mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya
berdasarkan makna yang ia peroleh, dari sana ketenangan hati akan muncul. Jika
hati telah tenang (EQ) akan memberi sinyal untuk menurunkan kerja simpatis
menjadi para simpatis. Bila ia telah tenang karena aliran darah telah teratur
maka individu akan dapat berfikir secara optimal (IQ), sehingga ia lebih tepat
dalam mengambil keputusan. Manajemen diri untuk mengolah hati dan potensi
kamanusiaan tidak cukup hanya denga IQ dan EQ, kecerdasan spiritual adalah
kecerdasan yang sangat berperan dalam diri manusia sebagai pembimbing
kecerdasan lain. Kini tidak cukup orang dapat sukses berkarya hanya dengan
kecerdasan rasional (yang bekerja dengan rumus dan logika kerja), melainkan
orang perlu kecerdasan emosional agar merasa gembira, dapat bekerjasama dengan
orang lain, punya motivasi kerja, bertanggung jawab dan life skill lainnya.
Perlunya mengembangkan kecerdasan spiritual agar ia merasa bermakna, berbakti
dan mengabdi secara tulus, luhur dan tanpa pamrih yang menjajahnya. Karena itu
sesuai dengan pendapat Covey diatas bahwa “SQ merupakan kunci utama kesadaran
dan dapat membimbing kecerdasan lainnya”. http://akulb.blogspot.com/2012/04/peran-iq-eq-dan-sq-pada-pendidikan.html
Landasan
EQ dan SQ Dalam Kepemimpinan
Seorang
pemimpin yang hanya berlandaskan pada IQ saja, maka visi dan misi serta
orientasi kerjanya sebatas pada hal-hal yang sifatnya materialistis, matematis
dan pragmatis, dengan mengenyampingkan hal-hal yang berbau spirituallits dan
sentuhan hati nurani. Pencapain visi dan misi oleh pemimpin yang hanya
mengandalkan IQ, dilakukan dengan prinsip just do it, sehingga segala bentuk
kegagalan ataupun keberhasilan, disikapi sebagai prinsip just a game. bahkan
ultimate goal nya juga masih sebatas mancari kepuasan materiil atau duniawi.
Pemimpin
yang menerapkan nilai-nilai EQ akan menggunakan hatinya dalam memimpin, tidak
semata-mata logika sebagaimana pendekatan IQ di atas. Penerapan EQ ini
ditunjukan dengan sifat sidik (jujur), Tabligh (berani menyampaikan kebenaran),
Amanah (terpercaya), dan Fatonah (berpendirian kuat) dalam memimpin. namun
pendekatan EQ ini sasaran akhirnya cenderung masih tetap sama dengan pendekatan
IQ yakni sebatas mengejar kepuasan materiil atau duniawi. Konon di dalam dunia
pendidikan negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika ada materi tambahan
yang berkaitan erat dengan life skill dan leadership. Disitu aspekkejujuran,
pemahaman akan individu dan masyarakat, ditambah basic technology diberikan
sebagai menu sehari-hari. Namun konsep itu nampaknya masih terlepas dari
nilai-nilai luhur ajaran agama, hanya sebatas pada hubungan antar sesama
manusia dengan mengabaikan hubungan dengan Tuhan Pencipta Semesta Alam.
Pemimpin
yang mendalami dan menerapkan nilai-nilai SQ dipadukan dengan nilai-nilai EQ,
ultimate goal nya semata-mata mendapat ridha Allah SWT. Visi dan misinya sangat
jauh kedepan karena dihasilkan dari proses memahami masa lalu (sejarah) yang
sangat jauh ke belakang. Mulai dari upaya memahami penciptaan alam dan manusia
sampai meyakini bahwa tujuan akhirnya tidak lain adalah akhirat. dengan
demikian visinya tidak sebatas sampai akhir kehidupan dunia saja, tapi sampai
pada kehidupan akhirat, dimana semua perilaku kita di dunia akan dipertanggung
jawabkan dihadapan Allah SWT dan kita yakin bahwa pengadilan akhirat akan kita
hadapi. Oleh karena itu prinsip just do it nya adalah mengerjakan segala
sesuatu dengan penuh keikhlasan karena melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai
seorang pemimpin, semata-mata mengharap ridha Allah SWT, sehingga ukuran yang
digunakannya bukan lagi ukuran manusia tapi sudah menggunakan ukuran Tuhan
Pencipta Alam Semesta. http://eronces.wordpress.com/2007/11/24/peran-iqeqsqesq-dan-aq/
